2.1 Film
2.1.1 Pengertian
Pengertian
secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema
+ tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi
pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak
dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan
kamera.
Film
adalah sekedar gambar yang bergerak, adapun pergerakannya disebut sebagai
intermitten movement, gerakan yang muncul hanya karena keterbatasan kemampuan
mata dan otak
manusia menangkap sejumlah pergantian
gambar dalam sepersekian detik. Film menjadi media yang sangat berpengaruh,
melebihi mediamedia yang lain, karena secara audio dan visual dia bekerja sama
dengan baik dalam membuat penontonnya tidak
bosan dan lebih mudah mengingat, karena formatnya yang menarik.
2.1.2 Sejarah dan Perkembangan Film
Internasional
Film yang ditemukan pada akhir abad ke-19 dan terus berkembang
hingga hari ini merupakan ‘perkembangan lebih jauh’ dari teknologi fotografi.
Perkembangan penting sejarah fotografi telah terjadi di tahun 1826, ketika
Joseph Nicephore Niepce dari Perancis membuat campuran dengan perak untuk
membuat gambar pada sebuah lempengan timah yang tebal.
Film
pertama kali dipertontonkan untuk khalayak umum dengan membayar berlangsung di
Grand Cafe Boulevard de Capucines, Paris, Perancis pada 28 Desember 1895.
Peristiwa ini sekaligus menandai lahirnya film dan bioskop di dunia.
2.1.3 Sejarah dan Perkembangan Film
Indonesia
Di
Indonesia, film pertama kali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia
(Jakarta). Pada masa itu film disebut “Gambar Idoep".
Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah
Abang dengan tema film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja
Belanda di Den Haag. Namun pertunjukan pertama ini kurang sukses karena
harga karcisnya dianggap terlalu mahal.
Sehingga pada 1 Januari1901, harga karcis
dikurangi hingga 75% untuk merangsang minat
penonton. Film cerita pertama kali dikenal
di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini
berubah judul ke 16 dalam bahasa Melayu, dan film cerita impor ini cukup laku
di
Indonesia, dibuktikan dengan jumlah
penonton dan bioskop pun meningkat. Daya tarik tontonan baru ini ternyata
mengagumkan.
Film lokal pertama kali diproduksi pada
tahun 1926, dengan judul “Loetoeng Kasaroeng” yang diproduksi oleh NV Java Film
Company, adalah sebuah film cerita yang masih bisu. Agak terlambat memang,
karena pada tahun tersebut di belahan dunia yang lain, film-film bersuara sudah
mulai diproduksi. Kemudian, perusahaan yang sama memproduksi film kedua mereka
dengan judul “Eulis Atjih”.
2.1.4.2 Menurut Cara Pembuatan Film
A.
Film Eksperimental
Film Eksperimental adalah film yang dibuat
tanpa mengacu pada kaidah-kaidah pembuatan film yang
lazim. Tujuannya adalah untuk mengadakan eksperimentasi
dan mencari cara-cara pengucapan baru
lewat film. Umumnya dibuat oleh sineas yang
kritis terhadap perubahan (kalangan seniman film), tanpa
mengutamakan sisi komersialisme, namun
lebih kepada sisi kebebasan berkarya.
B. Film Animasi
Film Animasi adalah film yang dibuat dengan
memanfaatkan gambar (lukisan) maupun benda-benda mati yang lain, seperti
boneka, meja, dan kursi yang bisa dihidupkan dengan teknik animasi.
2.4.2
Nilai-nilai Apresiasi
A. Nilai Hiburan
Nilai hiburan sebuah film sangat penting. Jika sebuah filmtidak
mengikat perhatian kita dari awal hingga akhir, film itu terancam gagal. Kita
cepat menjadi bosan. Akibatnya, kita tak bisa mengapresiasi unsur-unsurnya.
Nilai hiburan sangat relatif, karena tergantung dari selera penonton.
Memang, nilai hiburan ada kalanya dianggap rendah. Itu terutama sering
ditujukan kepada film-film yang menawarkan mimpi-mimpi atau pelarian dari
kenyataan hidup sehari-hari.
B. Nilai Pendidikan
Pendidikan yang dimaksud bukanlah pendidikan formal di bangku
sekolah. Nilai pendidikan sebuah film lebih kepada pesan-pesan yang ingin
disampaikan (nilai moral film). Setiap film umumnya mengandung nilai
pendidikan, hanya perbedaan satu dengan lainnya adalah pada kedalam pesan yang
ingin disampaikan.
DAFTAR PUSAKA
https://www.dropbox.com/s/pgboc09t3uhtmhv/2TA11217.pdf?dl=0
Ini adalah salah satu bentuk bahwa kamu tidak mengerti apa yang kamu tulis dan hanya copas saja. Bagaimana bisa kamu sertakan sub-sub poin seperti 2.1 jika 1.1 nya saja tidak ada.
BalasHapus