Pendahuluan: Revolusi Digital
Tidak sampai 20 tahun yang lalu, terjadi
pergeseran paradigma media yang bersifat global dan sangat fundamental.
Pergeseran itu menyangkut produksi, penyimpanan, dan penyebaran informasi
digital secara global melalui jaringan online (Internet). Melalui jaringan ini,
setiap komputer mampu untuk menerima dan mengirimkan teks, gambar, audio, dan
video dengan cepat dan murah (Petre dan Harrington, 1996:9).
Salah satu hasil perkembangan teknologi
digital ini adalah apa yang disebut dengan Digital Media. Flew (2002:10)
mendeskripsikan digital media sebagai berikut: “Digital media are forms of
media content that combine and integrated data, text, sound, and images of all
kinds; are stored in digital formats; and are increasingly distributed through
network such as based upon broad-band fibre-optic cables, sattelites, and
microwave transmision systems”. Perkembangan media digital digerakkan oleh
tersedianya teknologi baru di dalam penciptaan dan penyebaran isi (content)
media. Di samping itu, pengembangan dan distribusi isi media digital juga
didorong oleh keinginan untuk melakukan inovasi dan ekspresi kreatif; serta
keinginan untuk mengeksploitasi peluang bisnis baru.
Media
Digital dan Industri Media Tradisional
Industri yang pertama kali menggunakan teknologi
digital adalah industry permainan komputer (computer games). Kesuksesan
industri games ini menarik perhatian industri media tradisional (cetak dan
elektronik) untuk mulai mengembangkan isi dan distribusi dalam format digital.
Di sisi lain, muncul tuntutan-tuntutan baru terhadap industri media dari pihak
khalayak, yang menghendaki informasi yang semakin spesifik (sesuai kebutuhan)
dalam isinya dan luwes dalam cara dan waktu untuk mengaksesnya. Beberapa CEO
perusahaan telekomunikasi mengunakan istilah “Anything, anytime, Sri Hastjarjo
– Dunia Digital dan Dunia Penyiaran 37 anywhere” untuk menggambarkan tuntutan
konsumen ini (Negroponte,
1995:174). Sebuah penelitian di Australia
melaporkan bahwa khalayak yang saat ini berusia 35 tahun ke bawah tidak lagi
memiliki kebiasaan mengkonsumsi media massa seperti yang dimiliki oleh orangtua
mereka. Contoh yang jelas bisa dilihat dari kebiasaan membaca surat kabar.
Generasi yang lebih tua biasa membaca surat kabar dari awal sampai akhir secara
metodis; sedangkan generasi yang lebih muda akan langsung membaca bagian
(rubrik) yang mereka sukai, dan mengabaikan isi yang lain. Generasi baru ini
juga tidak lagi membeli surat kabar setiap hari, namun hanya pada akhir pekan
atau pada hari-hari tertentu. Alasan bagi kebiasaan baru tersebut antara lain:
keterbatasan waktu, tidak mau memboroskan kertas koran (demi kelestarian
lingkungan), merasa sudah cukup dengan mengikuti headline berita dari TV kabel atau
internet di tempat kerja (Petre dan Harrington, 1996:127). Industri periklanan,
yang memiliki hubungan tak terpisahkan dari industry media massa, juga akan
diuntungkan dengan perkembangan media digital; terutama di dalam hal mengurangi
pemborosan iklan (ad wastage). Ad wastage adalah istilah di dalam industri periklanan
untuk mewakili kelompok khalayak yang tidak menaruh perhatian sama sekali
kepada iklan di media massa (Petre dan Harrington, 1996:133). Dengan media
digital, terbuka kemungkinan untuk men-distribusikan informasi tentang sebuah
produk kepada konsumen yang benar-benar membutuhkan/menginginkan/menggunakan
jenis produk tersebut.
Televisi
Digital
Perkembangan Televisi (Siaran) Digital membuka
peluang untuk meningkatkan kemampuan televisi sebagai sebuah media; dengan cara
menambahkan fasilitas/kemampuan yang saat ini dimiliki oleh Internet. Prototype
televisi digital diharapkan bisa menawarkan beberapa manfaat, di antaranya:
kualitas gambar dan suara yang lebih
tinggi, sehingga bisa mendekati pengalaman menonton bioskop; kemung-kinan bagi
stasiun televisi yang ada untuk melakukan multi-channelling; dan pengembangan
datacasting dan televise interaktif. Sekalipun televisi digital membuka
kemungkinan-kemungkinan yang
menarik, namun realisasinya tidak secepat
media yang lain. Penghambat yang terbesar adalah: dibutuhkannya pesawat
televisi model baru yang memiliki fasilitas untuk men-decode sinyal digital.
Hal ini membuat perusahaan-perusahaan televisi siaran agar ragu untuk mulai
melakukan siaran televisi digital, dengan pertimbangan: (1) dibutuhkan
pembangunan infrastruktur baruuntuk memproduksi dan menyiarkan program televisi
digital; (2) harga pesawat televisi digital masih belum terjangkau oleh
sebagian terbesar khalayak penonton televisi, sementara itu untuk menyiarkan
program ganda (analog dan digital) akan terlalu mahal (Flew, 2002:111). Saat
ini baru bisa dilakukan prediksi tentang pelayanan apa saja yang bisa
dimungkinkan oleh televisi digital di masa depan. Prediksi ini didasarkan kepada
isi dan pelayanan tambahan yang saat ini diberikan oleh stasiun televisi yang
juga memiliki website di Internet. Informasi dan pelayanan Sri Hastjarjo – Dunia
Digital dan Dunia Penyiaran 39 tambahan yang ada di dalam website stasiun
televisi biasanya meliputi: informasi- informasi tambahan untuk mendukung
program yang disiarkan, informasi statistik untuk program olah-raga, dan link
ke situs Internet yang berhubungan dengan isi program. Berdasar informasi dan
pelayanan tersebut, maka penggabungan televise dan internet akan membuka kemungkinan
untuk pelayanan-pelayanan baru, seperti: penyediaan link antara program
dokumenter dengan ensiklopedia online; akses kepada arsip digital untuk
memperoleh informasi-informasi tambahan bagi program-program berita dan current
affairs; membuat link antara program drama atau komedi dengan situs-situs
Internet yang dibuat oleh para penggemar (fans) program-program tersebut.
DAFTAR PUSAKA
https://www.dropbox.com/home?preview=Jurnal+Komunikasi+Massa+Vol+1+No+1+2007.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar