Jumat, 14 Oktober 2016

DISTRIBUSI PRODUKSI DAN PENERIMAAN TV


Pendahuluan: Revolusi Digital
Tidak sampai 20 tahun yang lalu, terjadi pergeseran paradigma media yang bersifat global dan sangat fundamental. Pergeseran itu menyangkut produksi, penyimpanan, dan penyebaran informasi digital secara global melalui jaringan online (Internet). Melalui jaringan ini, setiap komputer mampu untuk menerima dan mengirimkan teks, gambar, audio, dan video dengan cepat dan murah (Petre dan Harrington, 1996:9).
Salah satu hasil perkembangan teknologi digital ini adalah apa yang disebut dengan Digital Media. Flew (2002:10) mendeskripsikan digital media sebagai berikut: “Digital media are forms of media content that combine and integrated data, text, sound, and images of all kinds; are stored in digital formats; and are increasingly distributed through network such as based upon broad-band fibre-optic cables, sattelites, and microwave transmision systems”. Perkembangan media digital digerakkan oleh tersedianya teknologi baru di dalam penciptaan dan penyebaran isi (content) media. Di samping itu, pengembangan dan distribusi isi media digital juga didorong oleh keinginan untuk melakukan inovasi dan ekspresi kreatif; serta keinginan untuk mengeksploitasi peluang bisnis baru.

Media Digital dan Industri Media Tradisional

Industri yang pertama kali menggunakan teknologi digital adalah industry permainan komputer (computer games). Kesuksesan industri games ini menarik perhatian industri media tradisional (cetak dan elektronik) untuk mulai mengembangkan isi dan distribusi dalam format digital. Di sisi lain, muncul tuntutan-tuntutan baru terhadap industri media dari pihak khalayak, yang menghendaki informasi yang semakin spesifik (sesuai kebutuhan) dalam isinya dan luwes dalam cara dan waktu untuk mengaksesnya. Beberapa CEO perusahaan telekomunikasi mengunakan istilah “Anything, anytime, Sri Hastjarjo – Dunia Digital dan Dunia Penyiaran 37 anywhere” untuk menggambarkan tuntutan konsumen ini (Negroponte,
1995:174). Sebuah penelitian di Australia melaporkan bahwa khalayak yang saat ini berusia 35 tahun ke bawah tidak lagi memiliki kebiasaan mengkonsumsi media massa seperti yang dimiliki oleh orangtua mereka. Contoh yang jelas bisa dilihat dari kebiasaan membaca surat kabar. Generasi yang lebih tua biasa membaca surat kabar dari awal sampai akhir secara metodis; sedangkan generasi yang lebih muda akan langsung membaca bagian (rubrik) yang mereka sukai, dan mengabaikan isi yang lain. Generasi baru ini juga tidak lagi membeli surat kabar setiap hari, namun hanya pada akhir pekan atau pada hari-hari tertentu. Alasan bagi kebiasaan baru tersebut antara lain: keterbatasan waktu, tidak mau memboroskan kertas koran (demi kelestarian lingkungan), merasa sudah cukup dengan mengikuti headline berita dari TV kabel atau internet di tempat kerja (Petre dan Harrington, 1996:127). Industri periklanan, yang memiliki hubungan tak terpisahkan dari industry media massa, juga akan diuntungkan dengan perkembangan media digital; terutama di dalam hal mengurangi pemborosan iklan (ad wastage). Ad wastage adalah istilah di dalam industri periklanan untuk mewakili kelompok khalayak yang tidak menaruh perhatian sama sekali kepada iklan di media massa (Petre dan Harrington, 1996:133). Dengan media digital, terbuka kemungkinan untuk men-distribusikan informasi tentang sebuah produk kepada konsumen yang benar-benar membutuhkan/menginginkan/menggunakan
jenis produk tersebut.

Televisi Digital

Perkembangan Televisi (Siaran) Digital membuka peluang untuk meningkatkan kemampuan televisi sebagai sebuah media; dengan cara menambahkan fasilitas/kemampuan yang saat ini dimiliki oleh Internet. Prototype televisi digital diharapkan bisa menawarkan beberapa manfaat, di antaranya:
kualitas gambar dan suara yang lebih tinggi, sehingga bisa mendekati pengalaman menonton bioskop; kemung-kinan bagi stasiun televisi yang ada untuk melakukan multi-channelling; dan pengembangan datacasting dan televise interaktif. Sekalipun televisi digital membuka kemungkinan-kemungkinan yang
menarik, namun realisasinya tidak secepat media yang lain. Penghambat yang terbesar adalah: dibutuhkannya pesawat televisi model baru yang memiliki fasilitas untuk men-decode sinyal digital. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan televisi siaran agar ragu untuk mulai melakukan siaran televisi digital, dengan pertimbangan: (1) dibutuhkan pembangunan infrastruktur baruuntuk memproduksi dan menyiarkan program televisi digital; (2) harga pesawat televisi digital masih belum terjangkau oleh sebagian terbesar khalayak penonton televisi, sementara itu untuk menyiarkan program ganda (analog dan digital) akan terlalu mahal (Flew, 2002:111). Saat ini baru bisa dilakukan prediksi tentang pelayanan apa saja yang bisa dimungkinkan oleh televisi digital di masa depan. Prediksi ini didasarkan kepada isi dan pelayanan tambahan yang saat ini diberikan oleh stasiun televisi yang juga memiliki website di Internet. Informasi dan pelayanan Sri Hastjarjo – Dunia Digital dan Dunia Penyiaran 39 tambahan yang ada di dalam website stasiun televisi biasanya meliputi: informasi- informasi tambahan untuk mendukung program yang disiarkan, informasi statistik untuk program olah-raga, dan link ke situs Internet yang berhubungan dengan isi program. Berdasar informasi dan pelayanan tersebut, maka penggabungan televise dan internet akan membuka kemungkinan untuk pelayanan-pelayanan baru, seperti: penyediaan link antara program dokumenter dengan ensiklopedia online; akses kepada arsip digital untuk memperoleh informasi-informasi tambahan bagi program-program berita dan current affairs; membuat link antara program drama atau komedi dengan situs-situs Internet yang dibuat oleh para penggemar (fans) program-program tersebut.

DAFTAR PUSAKA
https://www.dropbox.com/home?preview=Jurnal+Komunikasi+Massa+Vol+1+No+1+2007.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar